Merindu sebenarnya

Rasanya aku menjalani kegiatan hanya seperti raga tanpa jiwa.
Yang aku tau, aku berjalan di sepanjang jalan dengan pikiran yang ada padamu.
Aku merindu, tapi aku sudah tak bisa kembali.
Aku ingin melihatmun atau bahkan hanya sekedar menjadi penguntit, tapi aku tak bisa.

Lebih tepatnya bukannya tak bisa, taoi tau mau.
Semakin aku menginginkanmu, semakin pula perasaan itu muncul ; bersalah.

Ketika super ego itu terlalu mendominasiku, limpahan rasa bersalah akan muncul, dan yang tersisa hanyalah tingkatan depresi yang mendalam.

Aku merindukanmu, sebuah kesalahan dan penyesalan.


Allein Airen

(Bukanlah sebuah puisi, tetapi ungkapan hati dari kata acak sederhana)


Keinginanku sederhana, menua bersama dengan orang yang tepat.
Menikmati titik balik senja sebelum malam.
Dan tidur bersama sembari memimpikan dirimu yang tertidur pulas.
Allein Airen


Ada drama yang harus dimainkan ; ada peran yang harus diambil
Allein Airen

Ada saatnya kita tahu kapan kita harus berhenti memperjuangkan apa yang tidak pernah menjadi milik kita.
Allein Airen (keputusan yang tetap)

Ini gila, aku terlalu menyayangimu hingga akhirnya pilihanku adalah melepasmu dan meninggalkanmu.
Semuanya sederhana.. karena apapun pilihanmu.
Aku bukanlah yang pertama kau datangi.
Allein Airen (dalam kekalutan)

Dinginnya udara diluar tak bisa menyejukkan rasa panas yang terjadi di akibatkan oleh pengakuan bahwa kau selalu punya alasan untuk bersamanya.
Bersamanya.. bukan aku.
Allein Airen

Andaikan kau bukan siapapun..
ini pasti lebih mudah.
Lebih mudah untukku mengatakan bahwa aku menyukaimu.
Allein Airen

Saat aku tak tau apa pembeda antara cinta ini dan keinginan, kuingat dirimu.. apakah aku ingin memilikimu ataukah aku ingin kau nyaman dengan diriku.
Allein airen

Aku meninggalkan duniaku bukan karena aku membencimu, tetapi karena duniaku adalah satu-satunya penghubung antara aku dan dirimu.
Kita butuh jarak, aku butuh jarak.
Allein airen